Wawancara Dekan FMIPA

Baper rek adalah acara yang baru pertama kali dilaksanakan pada tahun ini disetiap fakultas. Baper rek singkatan dari Bincang dan Perfrom Bersama Rektor denga tema FMIPA Ecopreneurship. Indikator kinerja FMIPA adalah bagian dari indikator kinerja unesa juga, jadi unesa punya perjanjian kontrak kerja dengan beberapa kementrian, seperti kementrian kemendikbud, kemenristekdikti, dan kementrian keuangan. Kemudian kinerja unesa itu diturunkan ke masing-masing fakutas, sehingga setiap fakultas diberi target, misal target publikasi, sitasi, dan jurnal yang terindeks intersanisonal. Jurnal yang terindeks internasional hanya ada di satu fakultas yakni Fmipa. Jadi kementrian menargetkan unesa supaya ada satu jurnal yang terindeks internasioanal, dan itu FMIPA yang memenuhi.

JPFA (Jurnal Penelitian Fisika dan Aplikasinya) adalah jurnal dari FMIPA yang terindeks internasional. Sehingga pak rektor memberi reward 50jt untuk pengelolahan jurnal JPFA. JPFA berdiri pada tahun 2011, sewaktu dekan FMIPA masih sekolah S3, dan dekan FMIPA tersebut yang mendirikan, dengan bantuan atau dukungan teman-tema jurusan fisika. Pengelolahan jurnal tidak hanya diikuti oleh senior tetapi yang muda muda juga diajak bergabung , tidak lain juga mahasiswa yang juga ikut serta. Mahasiswa kelas unggulan dibentuk sebagai tim bahasa inggris, yang fungsinya membantu dalam penulisan jurnal yang berbasis bahasa inggris. Setelah direvisi lagi oleh tim dosen kemudian dikirim ke reviewers. Jurnal yang dikirim ke reviwers nama penulisnya tidak dicantumkan, sehingga reviewers tidak mengetahui identitas penulis. Reviewers untuk jurnal internasional dari luar unesa semua, ada yang dari itb, its, dan banyak juga yang dari luar. Profesor luar negeri yang sebidang dengan fisika dan pendidikan fisika itu yang jadikan reviewers. Karena untuk syarat jurnal iternasional reviewers 70% harus dari luar dan 30% boleh dari dalam.

Di FMIPA ada Program baru yaitu program profesorship. Semenjak dekan FMIPA masih menjadi Wakil Dekan1 sudah launching program profesorship, sehingga profesor terbanyak berada di FMIPA dan belum lama kemarin ada pengukuhan guru besar, ada 3 guru besar yakni semuanya dari FMIPA. Dan belum lama ini yang sedang diusulkan sekitar 4 calon guru besar ini dari FMIPA. Ada juga dari luar FMIPA, yaitu satu dari FIP dan satu dari FE. Program profesorship itu adalah program yang mendorong dosen-dosen yang pangkatnya sudah menjadi kepala jabatan tetapi kurang syarat khusus untuk menjadi guru besar. Untuk itu diberikan fasilitasi, melalui pendampingan, pembiayaan, sampai submit juga ada yang mendapampingi. Kemudian program ini diadopsi oleh universitas dengan nama program percepatan guru besar, dan yang menjadi koordinasi program percepatan guru besar adalah dekan FMIPA.

Target awal dekan FMIPA ketika masih menjadi Wakil Dekan I adalah semua dosen di FMIPA harus mempunya karya yang terindeks kopus. Indeks kopus itu adalah menjadi acuan lembaga indeks internasional yang diakui oleh kemenristek dikti. Setiap dosen baik itu muda, setengah muda, setengah tua, tua sampai dosen senior itu semua harus punya karya ilmiah yang terindeks kopus. Dengan alasan untuk meningkatkan rangking unesa. Pemeringkatan rangking perguruan tinggi itu memiliki syarat, salah satunya dilihat dari karya ilmiah dosen atau mahasiswa yang terideks kopus. Dosen di FMIPA ini hampir semuanya sudah memiliki jurnal terindeks kopus, kegiatan ini juga melalui kegiatan-kegiatan pendampingan sebelumnya. “Sehingga tidak harus jurnal internasional, untuk dosen muda yang belum berpengalaman jurnal internasional itu kami kasih dana penelitian walaupun tidak besar,  sebesar 10jt dengan syarat minimal seminar internasional yang prosidinya terindeks kopus. Untuk dosen-dosen yang senior dan juga rektor kepala wajib membuat jurnal internasional.”, ujar Madlazim. Jadi lebih muda membuat prosisi yang terindeks kopus dibandingkan membuat jurnal internasional.

Program percepatan guru besar sudah roadshow ke semua fakultas. Antusiasnya baik tetapi tetap aja yang menjadi ujung tombak itu masing-maing dosennya sendiri. Maka motivasi dosen ini berperan penting dan juga fasilitasi dari fakultas. Fakultas juga harus mensupport, seperti kepegawaiannya juga harus membantu dosen. Sehingga kepegawaian FMIPA itu paham, misalnya bagaimana mengetahui suatu artikel itu plagiasi nya berapa persen, diajari oleh dosen-dosen FMIPA. Kepegawaian FMIPA sangat baik, tetapi dalam mutasi ini ditarik oleh rektor. Sehingga kepegaiannya yang sudah paham diganti dan dipindah kerektorat karena bagus katanya. Akhirnya kepegawaian yang baru dibina lagi dari yang belum pengalaman. Itu semua juga demi unesa lebih baik.

Program baru dalam fmipa itu ada juga program unggulan namanya Ecopreneurship. Ecopreneur ship itu mempunya 3 komponen. Yang pertama eco innovation yaitu dosen dan mahasiswa FMIPA harus punya inovasi-inovasi, dengan syarat inovasi nya berwawasan lingkungan. Eco nya itu bukan sekedar ekonomi tetapi ekologi lingkungan. FMIPA tidak menghasilkan produk yang tidak ramah lingkungan, produk yang dikeluarkan itu harus ramah lingkungan.

Seperti kebencanan yang aplikasi nya sudah dihasilkan dan sudah bisa di download di google play store dengan nama prediksi Stunami Joko Tingkir. Itu hasil kerjasama FMIPA dengan BPMKG hasil penelitian Prof. Dr. Madlazim, M.Si. Risteksidkti yang membiayai dan itu BPMKG belum punya aplikasi seperti itu. Ada warga filiphina dan timor leste meminta izin mau memakai aplikasinya dan bertanya harganya berapa. aplikasi ini dibutuhkan sekali, cuma yang terkait kebencanaan tidak bisa piur di komersialkan karena itu sudah didanai dikti per taun 300 juta itu, selama 3 tahun. Dengan syarat tidak boleh mengkomersialkan dulu, sebelum 3 tahun riset selesai.

Ada juga hasil karya Prof. Dr. Titik Taufikurohmah, M.Si dosen kimia, hasil karyanya berupa nanagold untuk kecantikan dan kesehatandan. Produk tersebut bebas dari merkuri sehingga bahan tersebut termasuk ramah lingkungan. Kemudian ada juga batik tetapi bahan yang dipilih dari alam, ketika dicuci tidak luntur, sehingga tidak mengotori atau membuat limbah.

Yang kedua adalah Eco Oppourtunittie yaitu inovasi-inovasi yang dikembangkan itu harus memanfaatkan peluang yang ada, peluang yang sekarang ada sehingga jangan menghasilkan inovasi baru tapi itu tidak dibutuhkan masyarakat. Jadi harus melihat juga peluangnya supaya bermanfaat untuk masyarakat.

Dan yang terakhir ada eco komitmen yaitu bentuk karakter kinerja. Karakter ada 2 bagian, yakni katakter kinerja dan juga ada karakter moral. Karakter moral seperti kejujuran, disiplin, sopan. Sedangkan karakter kinerja seperti kerja keras, menghasilkan inovasi, bersungguh-sungguh, memperhatikan ramah lingkungan. Ketiga komponen tersebut yang menjadi andalan unggulan FMIPA.

Acara Baper rek menurut Dekan FMIPA yakni Prof. Dr. Madlazim, M.Si adalah sangat menarik sekali karena para dosen karyawan bisa berdialog langsung dengan unesa satu, sang pengambil keputusan. Contoh misalnya yang dibahas tadi mengenai pembangunan,  selama ini masih simpangsiur terkait dengan komitmen kepemimpinan unesa untuk mendukung inovasi-inovasi dosen. Tadi juga disampaikan, banyak produk inovasi dosen tidak bisa berkembang karena tempatnya tidak ada, kemudian langsung direspon pak rektor, untuk masalah tempat kami sediakan.

Meskipun gedung tidak mendukung tetapi bapak dan ibu dosen FMIPA tetap berinovasi. Kemudian dari biologi, juga punya hidroponik yang layak dijual dengan jumlah banyak, tetapi ada kendala karena tempat gedung biologi belum ada. Dulu sempat dijanjikan ada tapi sampai sekarang belum juga dibangun. Dan ketika pembahasan tadi sudah dipastikan oleh bapak rektor yang berkomitmen untuk menjadikan ini prioritas nomor satu dari pembangunan gedung-gedung yang lain di unesa. Sehingga begitu ada dana langsung lab bilogi dibangun terlebi dahulu. Hal ini sangat penting pernyataan langsung dari pimpinan dan didengar langsung oleh para dosen. Dari pada simpangsiur katanya dibuatkan kemudian katanya tidak jadi. Hal ini sangat baik kominikasi langsung antara pimpinan dengan bawahan.

Kemudian ada masukan-masukan tentang PPTI IT.  Semestinya sebelum diterapkan siakadu yang baru, Wakil Rektor I mengundang para kaprodi dulu, ini ada sistem baru. Jangan sampai ada kaprodi atau dosen tidak mengetahui tentang hal ini, banyak yang belum tahu karena belum sosialisasi. Sistem perkuliahan jurnal, sekarang sistemnya perkuliahan hari ini langsung segera mengisi jurnal, jika tidak maka tidak bisa mengisi jurnal.

apl saya ini dibutuhkan sekali, uma yang terkait kebencanaan tidak bisa piur itu saya komersialkan karena itu sudah didanai dikti, saya didanai dikti itu per taun 300 juta itu selama 3 taun, tapi syaratnya saya tidak boleh mengkomersialkan dulu, sbelum 3 taun riset saya selesai.

Penulis : Aida

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *